Bismilah

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

.....

" MADING GEMA NURANI " __ Jl.Raya Kaliabang Tengah No.75 B Bekasi 17125 Phone 021 88871329 __ ** Ikhlas Melayani Mendidik Sepenuh Hati **

AL QURAN

Cari .....

Tampilkan postingan dengan label JUJUR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JUJUR. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Desember 2017

10 Sikap dan Nilai Positif yang Perlu Ditanamkan Kepada Anak Sejak Dini


Inilah nilai-nilai positif yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini. Simak selengkapnya…

Sahabat Gema Nurani, mendidik anak menjadi sosok yang tangguh dan beriman tidaklah mudah. Diperlukan kesabaran, ilmu dan stimulasi yang baik dan konsisten dari orang tua kepada anak. Anak sangat cepat menyerap berbagai informasi dari sekitarnya, karena itulah diperlukan pendidikan nilai-nilai positif kepada anak sejak dini.

Berikut ini nilai-nilai positif yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini:

1. Nilai Keimanan
Nilai-nilai keimanan wajib diperkenalkan kepada anak agar bisa menjadi landasan yang kuat bagi anak untuk melangkah dan menapaki kehidupannya nanti. Tanamkan keimanan dan ajaran agama secara bertahap, sederhana, dan diikuti dengan contoh nyata dari orang tuanya agar lebih mudah dicerna dan diterima oleh anak.

2. Kejujuran
Ajarkan anak akan makna kejujuran. Cara terbaik untuk melatih kejujuran pada anak adalah dengan cara mencontohkan kejujuran tersebut dimulai dari diri orang tua itu sendiri. Ceritakan kisah yang bertema kejujuran dan akibat buruk terhadap sikap curang agar akan membekas dalam hati dan ingatan anak.

3. Kasih Sayang
Berikan curahan cinta dan kasih sayang untuk anak-anak. Anak-anak yang dibesarkan dengan penuh cinta diharapkan akan menjadi pribadi yang penuh cinta bagi kehidupan dan lingkungannya kelak. Selain itu, orang tua dan anak yang terbiasa saling mencintai dan dicintai tentu akan memiliki ikatan emosi yang lebih kuat dan hangat.

4. Bertanggung Jawab
Menanamkan nilai tanggung jawab kepada anak sangatlah penting. Nilai tanggung jawab dapat diajarkan lewat tugas-tugas sederhana yang diberikan kepada anak. Katakan kepada anak bahwa tugas sederhana yang harus ia kerjakan tersebut adalah tanggung jawab yang harus diselesaikannya. Misalnya: merapikan mainannya setelah bermain.

5. Sopan Santun
Attitude/sopan santun adalah juga sangat penting untuk diajarkan kepada anak sejak dini. Kenalkan sopan-santun pada anak dg cara yg mudah dimengerti. Contohnya: mengucapkan salam saat bertamu atau masuk ke rumah dan berjabat tangan. 

6. Kemandirian
Melatih kemandirian anak dapat dilakukan dengan memberi kesempatan anak melakukan apa yg diinginkan. Berikan kesempatan anak untuk meng-eksplore dan jangan terlampau banyak memberikan larangan yang pada akhirnya membuat anak memiliki karakter minder dan selalu ragu-ragu.

7. Tolong-Menolong
Ajarkan anak untuk belajar saling tolong-menolong dengan memberikan contoh seperti memberikan sedekah kepada dhuafa.

8. Bekerja Sama
Ajak anak untuk terlibat dalam pekerjaan rumah sederhana untuk menanamkan kemampuan bekerjasama dalam sebuah team. Misalnya: mengambilkan sapu saat keluarga merapikan taman bersama-sama.

9. Kegigihan dalam Berusaha
Kegigihan adalah semangat pantang menyerah untuk mencapai impian dan cita-cita. Berikan contoh-contoh dari kisah orang-orang sukses yang mengawali kesuksesannya dari nol.

10. Menjaga Kebersihan
Ajarkan anak untuk menjaga kebersihan diri dengan cuci tangan sesudah bermain dan membuang sampah pada tempatnya.

Perkembangan anak akan lebih optimal jika dilakukan sesuai dengan perkembangan anak, sejak usia dini dan berkesinambungan sampai anak beranjak dewasa. Orang tua juga perlu menjaga agar anak tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan dan pergaulan, sehingga nilai-nilai karakter yang dianutnya sejak kecil tidak akan luntur.

Semoga bermanfaat.....
Oleh : Artis Hardiyati (Titis)

Sumber : Ummi

Rabu, 28 September 2016

6 Langkah Ini Bisa Mengajari Anak Bersikap Jujur



"Berani Jujur Itu Hebat!"

Sebenarnya, kalimat ini mengherankan, karena salah satu standard karakter orang baik adalah jujur. Artinya, kejujuran itu mestinya ada pada setiap orang, dan merupakan akhlak yang standard. Tetapi, rupanya dunia telah sedemikian berubah, sehingga orang jujur sekarang memang langka adanya. Keculasan, tipu daya, kebohongan, siasat busuk, berkelit-kelindan dan melekat dan lama-lama naik tingkat menjadi adat.

Padahal, kejujuran adalah modal dasar kehidupan, dan sarana cemerlang menuju kejayaan akhirat. Di dunia, kejujuran kerap menjadi sarana kesuksesan seseorang. Tentu kita sering mendengar kisah, seseorang yang cemerlang secara karir, ternyata mengalami kegagalan fatal di tengah jalan gara-gara bersikap tak jujur. 

Mengajari bersikap jujur kepada anak itu gampang-gampang susah. Gampang, karena pada prinsipnya seorang anak itu memang sudah jujur dari sononya, alias selalu bersikap apa adanya. Nalurinya yang bening mendorongnya untuk melakukan itu. Sulit, karena konsep kejujuran dan kebohongan, adalah sesuatu yang sifatnya abstrak dan mungkin agak sulit dimengerti. 

Anak-anak usia 2-3 tahun misalnya, rata-rata mereka memang hidup di alam fantasi. Mereka sangat suka berimajinasi, dan imajinasi yang mereka bentuk itu, seolah-olah nyata terjadi. Maka, jangan heran jika suatu saat, anak Anda yang masih berusia 3 tahun misalnya, tiba-tiba datang kepada Anda, lalu dengan wajah serius bercerita, bahwa dia baru saja bertemu dengan SpongeBob. Menurut American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, sampai mereka berusia 7 atau 8 tahun, anak-anak tidak mengerti bahwa berbohong itu upaya nyata untuk memperdaya seseorang.

Namun, kejujuran tentu harus tetap diajarkan, dan diupayakan melekat pada anak-anak kita. Dalam ajaran agama saya, ada sarana berpuasa, yang sangat tepat untuk melatih anak bersikap jujur. Ya, karena ibadah puasa ini memang sangat menekankan aspek kejujuran. Hanya Allah dan kita sendiri yang tahu kita benar-benar berpuasa, atau diam-diam menyelinap ke kulkas dan minum seteguk air di siang bolong.  Mengingat pentingnya bersikap jujur, tak ada salahnya jika kita menitiktekankan puasanya anak-anak kita sebagai latihan bersikap jujur. 

Bagaimana cara agar anak terbentuk untuk selalu bersifat jujur?
Berikut ini tips-tipsnya.

Pertama, berilah pengertian sebelumnya kepada anak kita, bahwa kejujuran itu adalah hal yang terpenting dalam hidup kita. Sebaliknya, terangkan juga apa bahaya ketidakjujuran bagi seseorang.

Kedua, terangkan konsep bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar. Misalnya saat berpuasa, kita bisa berkata begini, “Nak, Bunda nggak tahu kalau kamu diam-diam berbuka. Tetapi, Allah maha melihat apa yang kita kerjakan. Jangan takut kepada Bunda, tetapi takutlah kepada Allah.”

Ketiga, karena kejujuran itu penting, sebaiknya kita tak terlalu mempersoalkan hasil akhir, tetapi fokuslah pada proses. Misal, ketika anak kita memang tak kuat berpuasa, katakan kepadanya, “Nak, kalau memang kamu tidak kuat, berbuka saja pas adzan dhuhur.” Itu jauh lebih baik daripada Anda mengatakan, “Pokoknya, bagaimanapun caranya, Adek harus puasa sampai maghrib, Bunda ada hadiah besar jika Adek bisa,” padahal, mungkin Anda sendiri menyadari, bahwa anak Anda agak kesulitan untuk berpuasa penuh. Tindakan semacam itu, akan membuat si anak memiliki bersitan niat untuk berbohong. 

Ini sama dengan tindakan sebagian orang tua yang sangat berobsesi anaknya dapat prestasi tinggi di sekolahnya dan karenanya menekan anak untuk selalu mendapatkan nilai baik, serta memarahinya habis-habisan jika nilainya jeblok. Tindakan kita yang sangat berorientasi pada hasil akhir, akan mendorong anak untuk menggunakan berbagai cara, termasuk mencontek.

Keempat, jika Anda tahu bahwa anak Anda diam-diam berbohong, misal saat puasa dia berbuka, jangan langsung menghujaninya dengan pertanyaan yang mengarahkan anak kepada kebohongan kedua, seperti  “Adek tadi buka ya?”. Tapi, langsunglah peluk dia dan berkata semacam ini, “Adek, besok makan sahurnya yang banyak, biar adek bisa kuat. Trus, jangan terlalu banyak main bola, nanti gampang haus.” Atau, ketika Anda tahu bahwa dia memukul adiknya hingga menangis, tetapi dia tidak mau mengaku, tak usah didesak untuk mengaku. Tetapi dengan cara lembut, kita bisa merangkulnya, lalu berkata, "Kakak, mencintai adik itu sesuatu yang sangat mulia, lho. Sementara, memukulnya hingga menangis, tentu akan dicatat sebagai perbuatan tercela."

Kelima, pujilah kejujurannya meski untuk sesuatu yang tak sesuai harapan. Misal suatu ketika anak Anda berkata, “Bunda, maaf, kemarin aku nyontek saat ulangan.” Katakan padanya semacam ini, “Bunda senang Adek mau berterus-terang. Lain kali kalau Adek tak bisa mengerjakan ulangan, sebaiknya kerjakan sebisanya. Bunda memang senang jika Adek dapat nilai bagus, tetapi Bunda lebih senang jika Adek bersikap jujur” 

Keenam, jangan beri contoh ketidakjujuran kepada anak Anda. Misal, suatu saat Anda berpesan kepada anak Anda, “Nak, kalau ada telepon tanya dulu dari siapa. Kalau yang telpon Pak A dari perusahaan B, bilang Bunda sedang sibuk.” Jika Pak A dari perusahaan B itu memang mengganggu Anda, mengapa tidak Anda hadapi saja sendiri, lalu bicara secara baik-baik atau tegas jika diperlukan, jika telepon-teleponnya Anda rasa mengganggu Anda.

Sulit memang, membudayakan bersikap jujur kepada anak. Terlebih, budaya dusta banyak sekali menjejali kehidupan di masyarakat sekitar kita. Terkadang, seringkali kita juga secara tak sadar melakukan dusta-dusta ringan, yang akhirnya menjadi kebiasaan. Ingin anak kita jujur, ayo mulai dari diri kita!

FB

Tweet GN

Live Trafic Feed ..

Flag Counter

Nasehat

Kita Mampu

CARA BUAT BLOG

Perjuangan anak agar bisa sekolah

Sedih sampai nagis tengok ni..

Dikirim oleh Puteri Tiara Elisha pada 15 Januari 2015

Perjuangan

Perlombaan ini Seru Banget Nih!

Dikirim oleh Videofb pada 4 April 2016