Bismilah

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

.....

" MADING GEMA NURANI " __ Jl.Raya Kaliabang Tengah No.75 B Bekasi 17125 Phone 021 88871329 __ ** Ikhlas Melayani Mendidik Sepenuh Hati **

AL QURAN

Cari .....

Kamis, 12 Mei 2016

Menjaga Investasi Surga

“Seyogyanya menanamkan aqidah yang benar dan akhlak yang baik pada anak menjadi profesi utama orang tua”

Membersamai tumbuh kembang anak bukanlah hal yang mudah. Perlu energi fisik dan psikis yang cukup besar. Belum lagi jika berbagai tuntutan lain seperti pekerjaan ataupun kegiatan sosial juga menjadi pilihan, tentu akan menghadirkan sebuah dilema. Sebelum penyesalan tiba, patutlah jika makna keberadaan sang buah hati dapat dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Juga sebagai pengobat kala lelah mulai menghinggapi hati dalam menjaga amanah sang buah hati.


Kehadiran amanah seorang anak merupakan sebuah anugerah. Tidak sedikit pasangan yang sudah lama menikah, namun belum juga mendapatkan karunia seorang momongan. Bahkan sekelas nabi Ibrahim pun merasakan betapa kehadiran anak sangat dinantikan dan selalu diharapkan melalui rahmat dan kasih sayang Allah. Hal ini menandakan banyak sekali hal yang bisa didapatkan dari sesosok buah hati.

Kehadiran anak sholeh merupakan dambaan setiap orang tua. Darinya amal akan tetap mengalir meskipun hayat tak lagi dikandung badan. Layaknya menanam pohon, perlu adanya lahan yang subur dan penjagaan yang baik agar kelak benar-benar berbuah dan menghasilkan banyak manfaat. Seperti inilah kiranya mengahadirkan anak sholeh di tengah keluarga. Perlu adanya lingkungan baik yang melingkupi pertumbuhannya.

Terkait hal ini sudah pasti orang tua harus mau menyediakan diri untuk membersamai setiap jengkal pertumbuhan dan perkembangan sang anak. Memastikan bahwa setiap hal yang diterima sang anak adalah input yang baik dan menyehatkan fisik serta mental. Bukan berupa racun yang justru akan menghambat atau bahkan merusak tumbuh kembang sang anak.

Tanggung jawab memperkenalkan aqidah yang benar sejak dini tidak bisa serta merta dipindah tangankan pada orang lain. Orang tua secara mutlak harus menanggung penumbuhan aqidah seutuhnya. Adapaun keberadaan guru ataupun orang lain merupakan pendukung kala keterbatasan akan pengetahuan orang tua menghalangi proses pengenalan aqidah.

Begitu pula dengan pembentukan akhlak. Akhlak mulia tidak akan pernah ada tanpa pembiasaan. Pembiasaan pun tidak akan pernah hadir tanpa contoh yang baik. Maka, sudah sepantasnya mencontohkan akhlak islam sesuai tuntunan Rasulullah dalam berbagai kegiatan merupakan sebuah keharusan. Mulai dari tata cara makan, minum, tidur, ke toilet, dan berbagai aktivitas harian lainnya.

Jika untuk urusan membangun aqidah yang benar dan melakukan pembiasaan akhlak mulia ini orang tuapun enggan, maka siapa lagi yang mau peduli untuk melaksanakannya. Padahal sudah jelas kehadiran anak sholeh merupakan investasi yang sangat berharga melebihi dunia dan seisinya. Maka, jika nafsu mengumpulkan harta sudah terlalu dalam menguasai hati para orang tua dapat dibayangkan betapa besar kerugiannya. Apalagi, jika mengejar karir dan meninggalkan berbagai kewajiban membersamai tumbuh kembang anak atas nama gengsi, sungguh celaka adanya.

Marilah kembali mengingat bahwa pencarian nafkah sejatinya adalah untuk membantu mempermudah proses tumbuh kembang anak yang bersifat materi. Namun, jika dalam prosesnya justru membuat anak kehilangan sosok ayah ataupun ibu yang dapat menghancurkan masa depan anak, tentu perlu adanya pengkajian ulang. Semua itu adalah pilihan bagi orang tua. Karena sejatinya anak pun memiliki sisi lain yang dapat menjerumuskan orang tua.

Jelas tertulis dalam al quran bahwa anak merupakan fitnah yang dianugerahkan untuk menjadi ujian bagi orang tuanya. Inilah sisi lain dari keberadaan anak. Maka, jika orang tua bisa berhati-hati  dan mau berjuang sebaik-baiknya untuk menghadapi setiap ujian yang didatangkan Allah melalui perantara anak, surga adalah hasilnya. Sebaliknya, jika perkara ini dianggap sepele dan dibiarkan mengalir begitu saja, jelas sudah neraka akan menjadi tempat penampungan akhirnya.

Ujian keberdaan anak bisa melalui berbagai kekurangan yang ada atau bahkan kelebihan yang menyertainya. Kekurangan yang dianugerahkan Allah pada anak akan sangat menguji kesabarab bagi orang tuanya. Keluh dan umpatan atas segala kekutrangan anak adalah pertanda gagalnya kita sebagai orang tua menjalani ujian. Pula, ketika kelebihan yang ada pada anak tidak disyukuri dengan cara yang baik, maka lepaslah janji syurga dari Allah untuk orang tua.

Inilah sedikit renungan yang setidaknya bisa kita pahami bersama. Kita rasakan betapa terlalu besar janji Allah bagi orang tua yang berusaha sepenuh tenaga menjaga keberdaan anak sebagai amanah titipan-Nya. Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah kita sebagai orang tua untuk menjaga investasi syurga. [Hasan]


“Anak merupakan ujian kesabaran dan kesyukuran bagi kedua orang tuanya”

MajalahEmbun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FB

Tweet GN

Live Trafic Feed ..

Flag Counter

Nasehat

Kita Mampu

CARA BUAT BLOG

Perjuangan anak agar bisa sekolah

Sedih sampai nagis tengok ni..

Dikirim oleh Puteri Tiara Elisha pada 15 Januari 2015

Perjuangan

Perlombaan ini Seru Banget Nih!

Dikirim oleh Videofb pada 4 April 2016